Kepemimpinan merupakan sebuah manifestasi dari cara
mempengaruhi orang lain dari yang tadinya tidak setuju, menjadi setuju, yang
kontra menjadi pro, yang tidak percaya menjadi percaya dalam sebuah situasi
atau perkara yang ada. Pemimpin tidak selalu memiliki sikap Kepemimpinan, akan
tetapi orang yang mempunyai sikap kepemimpinan dianjurkan untuk menjadi seorang
pemimpin.
Memang tidaklah mudah untuk mempengaruhi orang lain,
apabila hal tersebut berkaitan dengan perbedaan ideology (yang meliputi agama, golongan, suku, ras, budaya, adat), kepentingan serta ego dari suatu
individu. Tetapi hal ini menjadi menarik, apabila terdapat pro dan kontra yang
sulit menemukan titik temu dalam sebuah musyawarah (mufakat).
Mengapa adanya ketidaksepahaman menjadi sesuatu
yang menarik? Bukan kah
lebih mudah apabila sudah sepaham dan tidak ada yang perlu dipermasalahkan?
Memang akan menjadi mudah apabila sebuah permasalahan atau dalam memutuskan
suatu perkara tidak ada pihak yang kontra, tetapi ini justru menjadi hal yang
menarik untuk dihadapi, karena didalam hidup, sebuah rintangan atau hambatan
atau permasalahan akan membuat manis (memberi warna) dalam menghadapi hidup
tersebut.
Seorang Ketua Organisasi atau Manajer sebuah perusahaan
akan dihadapkan pada sebuah permasalahan tentunya. Maka dalam permasalahan
tersebut, Ketua atau Manajer tersebut dituntut untuk menjadi “Seniman” dadakan, dimana ia harus berfikir
“Bagaimana untuk bisa mempengaruhi kaum-kaum kontra tersebut agar sesuai dan memiliki
satu pandangan?”. Tentunya tidaklah mudah untuk melakukan hal-hal yang dapat
berdampak pada perubahan perspektif atau ideologi seseorang. Semakin kompleks
masalah yang dihadapi, akan semakin besar dampak atau resiko yang akan
diterima.
Cara-cara untuk mempengaruhi pihak kontra menjadi sepaham itulah
yang dinamakan sebagai sebuah seni,
dimana pemikiran seseorang dalam memahami permasalahan atau mencari jalan
keluar pasti berbeda. Tidak hanya sampai disitu, pemikiran yang memiliki Plan A,
Plan B dan Plan sebagainya
merupakan pemikiran yang harus dimiliki
pula, apabila terjadi sebuah kegagalan dalam pelaksanaan rencana tersebut. Maka
Seniman dadakan merupakan sebuah “Profesi” yang amat memutar otak, dimana harus
dituntut memiliki Kreatifitas, Inovatif, Komunikatif serta perencanaan masa
depan yang terstruktur. Itulah “Seniman” dalam
Institusi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar